Hikayat Onani

Agaknya hampir setiap bocah lelaki pernah memiliki mimpi ingin menjadi seorang pemain sepakbola. Dan saya adalah salah satu di antaranya.

Masa-masa ketika duduk di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama adalah masa-masa dalam hidup saya yang begitu gandrung dengan sepakbola. Hampir setiap hari adalah waktu bermain bola. Everyday is match day! Kalo kata situs Panditfootball. Mulai dari setiap minggu berlatih di Sekolah Sepakbola, hingga setiap pagi bermain bersama kawan-kawan di sekolah, lalu sore harinya bermain bersama kawan-kawan di sekitar rumah.

Ada satu mitos dalam bermain sepakbola, yang pada saat itu begitu dipercayai oleh saya dan kawan-kawan . Yaitu: jika ingin hebat dalam mengolah si kulit bundar, janganlah sering-sering coli! Alasannya adalah, karena coli niscaya dapat menyebabkan persendian di sekitar betis dan lutut menjadi melemah. Sehingga kaki kita lama-kelamaan akan terdegradasi dengan menjadi semakin loyo dalam mengolah bola. Mitos itu pun pada saat itu, kerap dijadikan ledekan untuk untuk menyebut mereka yang tidak piawai bermain bola. Ledekan-ledekan semacam, “Loba teuing coli!”, “Loba teuing ngocok!”, kerap disematkan.

Onani, coli, masturbasi, merancap, cokbun, cokul, atau apapun sebutannya, memang  sarat dengan aneka mitos dan interpretasi. Dari berbagai generasi dan kalangan mempunyai versinya masing-masing. Bahkan sudah ada dan berlaku sejak dahulu.

Rezim Victoria di Eropa sana, pada abad 19 dulu, pernah menganggap coli sebagai biang kerok penyebab gagalnya pemerintahan mereka. Argumen-argumen yang berangkat dari agama hingga “sains” pada saat itu dipaparkan untuk memperkuat anggapan mereka dan, mengajak rakyat agar tak lagi doyan coli.

Mulai dari menjelaskan kisah di Kitab Kejadian tentang seorang lelaki bernama Onan yang dikutuk Tuhan karena mengeluarkan pejuh di luar rahim istrinya. Tuhan lantas dikisahkan memberi hukuman dengan cara membunuh Onan.

Dari argumen “saintifik”, pada masa itu menguar perbincangan ihwal pamflet yang dituliskan rohaniawan bernama Dr. Balthazar Bekker. Dalam pamfletnya, ia menjelaskan bahwa coli adalah sebab dari segala penyakit yang populer di masyarakat pada saat itu. Seperti muntah-muntah, gangguan pernapasan, impotensi, encok, hingga penuruan ingatan, dan kegilaan. Jelas, di tengah zaman yang belum mengenal pembuktian ilmiah yang lebih bisa dipertanggung jawabkan, isi pamflet itu cukup ampuh memberi ketakutan di tengah masyarakat.

Bahkan, dalam buku Inverting the Pyramid, Jonathan Wilson menuturkan, bahwa sepakbola sendiri sempat dijadikan pengalih perhatian pada masa itu agar masyarakat tak kegandurngan cokul. Anggapannya, dengan permainan seru yang ada di sepakbola, masyarakat akan teralih perhaatiannya dari kebiasaan terlaknat itu.

Mundur ke belakang, pada sekitar abad ke-16, seorang alkemis Swiss bernama Paracelsus pernah berujar bahwa pejuh yang dicampur boker kuda, lalu didiamkan selama beberapa bulan, akan menciptakan seorang manusia. Hanya saja manusia yang lahir dari “rahim” tokai kuda itu akan memiliki kepribadian buruk. Yang tidak baik bagi peradaban umat manusia.

Itulah beberapa interpretasi mengenai coli. Namun, dibalik beragam interpretasi yang dominan buruk tersebut, beberapa orang juga memiliki hutang budi kepadanya. Berkat coli, mereka kerap berhasil melahirkan karya-karya yang monumental.

Artonin Artaud, penulis-penyair-dramawan besar asal Prancis, pernah memiliki pengalaman hebat yang berkaitan dengan rancap-merancap ini. Suatu waktu ia pernah berteriak-teriak dengan histeris karena membayangkan seluruh orang dari London hingga Syria melakukan coli massal dan menyemprotkan pejuh hasil coli mereka kepada dirinya.  Di waktu yang lain ia juga histeris lagi, karena merasa pernah melihat para Rabi dari Yerusalem dan para Lama di Tibet melakukan coli selama satu minggu non-stop.

Artaud memang dikenal mengidap penyakit skizofrenia yang membawanya harus dilarikan ke rumah sakit jiwa. Namun di balik semua itu, ia memang masyhur sebagai seniman yang berani mendobrak kekangan nilai-nilai moralitas yang penuh sopan-santun khas kaum borjuis Eropa di masa itu, pada masanya. Melalui bukunya, The Teather and It’s Double, ia menunjukkan perayaan-perayaan banalitas atas tubuh yang mendobrak nilai-nilai moralitas itu.

Maju beberapa tahun ke depan, pengkaji filsafat, dan satra, Allain de Botton pernah omong-omong soal persamaan seniman dan tukang coli. Dalam “On Art and Masturbation”, ia menjabarkan dengan serius beberapa persamaan antara seniman dan coliman. Semisal mereka sama-sama membutuhkan “bahan dasar” atau yang biasa disebut awam sebagai inspirasi untuk memulai kerja mereka.

Seniman–dalam pandangan awam kebanyakan, dikonotasikan biasa mendulang inspirasi jika mereka pergi menyediri ke gunung-gunung, hutan, atau pantai. Padahal, sebut De Botton, inspirasi mereka bisa datang dari mana saja. Bisa timbul dari apa saja yang mereka temui di sekitaran, sehari-hari. Sebagaimana tukang cokul pun kerap mendapatkan inspirasi untuk onani mereka dari mana saja yang mereka lihat.

Lebih lanjut, tuturnya,  yang sama-sama dibutuhkan seniman dan tukang coli adalah mereka sangat memberi perhatian pada detail. Seorang pelukis yang hebat misalnya, akan memerhatikan betul detail pada guratan-guratan bagian mata objek yang dilukis. Dengan begitu, lukisan pun akan terasa lebih hidup dan nyata.

Begitupun tukang cokul. Detail-detail seperti bibir Angelina Jolie, hingga bulu-bulu halus di sekitar telinga yang agak berkeringat karena terbasuh peluh, kerap membuat tukang cokul terangsang. Begitulah persamaan-persamaan antara perancap dan seniman papar De Botton.

Selalu ada dua sisi atau dua pandangan yang berlawanan untuk hal apapun di dunia ini. Ada laki-laki dan perempuan. Ada bumi dan langit. Ada air dan api. Begitupun dalam hal merencap. Sehebat apapun larangan dengan menggunakan dalil agama, mitos, bahkan saintifik terhadapnya, kegiatan  merancap buktinya masih ada dan marak dilakukan hingga saat ini.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Makna Ada dalam Diri Ronaldo dan Kurt

Dalam buku “Filsafat Manusia” karya Zainal Abidin, termuat pandangan salah satu filsuf Jerman, Martin Heidegger (1889-1976), yang berpendapat bahwa salah satu “penyakit” yang menghinggapi manusia modern adalah “lupa akan makna ada”. Secara teoretis, hal tersebut berangkat dari keengganan manusia untuk melihat sisi makna atau nilai yang tersirat dalam ilmu pengetahuan yang mereka peroleh. Sedangkan secara praktis, “lupa akan makna ada” digejalai dengan krisis identitas pada manusia modern.

Krisis identitas ini terjadi ketika manusia itu “ditentukan” eksistensinya oleh orang lain, yaitu saat manusia berusaha mengejar nilai-nilai yang berlaku dan dianut secara global oleh orang kebanyakan dan takut untuk menampilkan dirinya sendiri yang sesungguhnya. Mulai dari cara bersikap yang baik, moralitas, cara berpakaian, gaya hidup, hingga cara berpose ketika sedang difoto, semuanya mengikuti tren kebanyakan orang. Tak peduli itu semua sebenarnya cocok atau tidak dengan kepribadian masing-masing individu tersebut. Dalam hal demikian, media massa, baik fisik maupun digital, menjadi elemen yang paling berperan dalam meng-arus-kan berbagai informasi tentang tren terbaru dan sebagainya, yang pada akhirnya mempengaruhi manusia modern dalam menentukan eksistensinya.

Banyak hal yang menyebabkan krisis identitas tersebut terjadi. Salah satu contoh di antaranya disebabkan oleh kekhawatiran individu tersebut, kala apa yang menjadi pilihan atau sikap nya, dianggap berbeda dan asing di pandangan umum. Kekhawatiran ini wajar, karena –masih menurut Heidegger, manusia merupakan mahkluk yang memiliki dunianya sendiri ketika mempersepsikan atau menilai objek yang dilihatnya. Ketika mempersepsikan objek yang dilihatnya, manusia akan menilai objek tersebut, berdasarkan perspektif dari pengalaman-pengalamannya di masa lalu, sehingga yang tercipta adalah penilaian secara sepihak kepada objek yang bersangkutan.

Cristiano Ronaldo, salah seorang mega bintang di era sepakbola masa kini, kerap menjadi objek dari apa yang disebut penilaian sepihak tersebut. Pemain yang lahir di Funchal, Madeira, 5 Februari 1985 tersebut, dengan segenap popularitas yang disandangnya, sudah barang tentu tingkah-polahnya hingga ucapannya di media, sering menyedot perhatian publik. Statusnya yang tidak hanya sebagai bintang Real Madrid dan Portugal, melainkan juga bintang di beberapa iklan produk-produk ternama, menjadikan perhatian publik yang tertuju kepadanya bukan cuma dari penggemar sepakbola tapi juga dari dunia hiburan. Dampak dari perhatian ini mencuatkan beragam opini dari persepsi masing-masing.

Pelbagai opini hadir, dari mulai yang baik hingga buruk, tersirat, terlontar, dan tertuang, melalui berbagai bentuk dari siapapun yang menaruh perhatian pada dirinya. Namun, jika boleh mengeluarkan sebuah hipotesis, Ronaldo dengan segala gelagat dan ekspresinya yang sering terlihat congkak baik saat di dalam maupun di luar lapangan, agaknya lebih banyak mendapat penilaian buruk sebagai bad boy dari publik, dibanding sebagai seorang publik figur yang pemalu, baik, sopan, nan ramah.

Di Piala Eropa 2016 misalnya, usai Portugal ditahan imbang Islandia, Bild menerbitkan artikel soal kesombongan pemain berjuluk CR7 ini. Judul artikelnya pun menohok: “Pria Sia-Sia yang Paling Sombong di Planet Ini. Artikel ini muncul sebagai reaksi dari ucapan Ronaldo usai pertandingan.

“Ini adalah malam keberuntungan buat mereka. Kami seharusnya dapat tiga poin, tetapi kami baik-baik saja. Saya pikir, mereka juara Piala Eropa, saat mereka merayakan di akhir laga, itu tak bisa dipercaya, saat mereka tidak berusaha untuk bermain dan hanya bertahan, bertahan, dan bertahan. Ini opini saya, menunjukkan mentalitas mereka tipis dan mereka tidak akan melakukan apa-apa di kompetisi ini,” ujar Ronaldo, seperti dilansir BBC.

Di waktu yang lain, saat ia diwawancarai oleh majalah Italia, Undici, CR7 sempat mengklaim bahwa dirinya merupakan pemain terbaik dalam 20 tahun terakhir.

“Di manakah saya menilai diri saya di antara para pemain top lainnya dalam 20 tahun terakhir? Berpikir positif, maka saya percaya dengan apa yang telah saya capai sejauh ini, saya yang terbaik. Atlet terbaik selalu menjadi pengaruh besar dalam olahraga mereka, jadi saya pikir saya telah memberikan dampak yang sangat penting,” ujar Ronaldo pada Undici.

Bukan sekali-dua Ronaldo menyatakan pernyataan-pernyataan yang terdengar angkuh. Masih banyak pernyataan atau sikapnya yang oleh sebagian orang dianggap sebagai suatu arogansi dan membikin jengkel. Bahkan, mantan rekan setim Ronaldo di Real Madrid, Gonzalo Higuain, pernah berpendapat bahwa Ronaldo merupakan orang yang berlebihan dan sangat terobsesi dengan predikat pemain terbaik dunia.

“Ronaldo sangat egois. Jika Anda tak berkata ia pemain terbaik dunia, dia bukan teman Anda. Cristiano berpikir bahwa ia yang terbaik, tapi dia berlebihan. Saya berbagi ruang ganti dengan Messi, dan tak ada yang sepertinya,” ujar Higuain.

Lantas, apakah dengan banyaknya penilaian negatif terhadap dirinya, lantas membuat CR7 mengubah karakternya?

Jawabannya dapat ditemukan kala BBC Sport pada 2015 lalu mewawancarai dirinya. Kala itu ia memproklamirkan –seperti biasa, dirinya sebagai pemain terbaik dunia. Bahkan lebih hebat dari pesaing masyhurnya di Barcelona, Lionel Messi.

“Aku tak peduli apa yang dipikirkan orang-orang, yang dikatakan mereka tentang aku. Bagiku, aku selalu yang terbaik. Mungkin dalam pikiran Anda, dia (Messi) yang terbaik, tapi di pikiranku, aku selalu lebih baik darinya,” tegas Ronaldo.

Yang menarik, di lain kesempatan pada 2015 lalu, majalah The Times mewawancarai perihal sisi personal nya yang dinilai arogan dan dibenci oleh sebagian orang, Ronaldo menanggapinya dengan diplomatis. “Saya memang bukan orang paling rendah hati di dunia ini, saya akui itu. Tapi saya tidak pura-pura. Di satu sisi, saya sangat rendah hati. Saya suka untuk belajar,” tegas Ronaldo.

Pengakuannya dan kalimat “Tapi saya tidak pura-pura” seakan dilemparkan Ronaldo untuk menegaskan bahwa, walaupun sikapnya itu tidak disukai sebagian orang, tetapi setidaknya dia tidak munafik pada dirinya sendiri dengan berpura-pura menjadi “baik”, mengikuti keinginan orang banyak. Ronaldo lebih memilih untuk “tidak lupa akan makna ada” atas eksistensinya, dengan menjadi dirinya sendiri secara utuh dan tak berpura-pura hanya demi menyenangkan penilaian umum.

Sifat keras kepala Ronaldo dan keteguhan untuk tetap menjadi diri sendiri tanpa banyak ambil pusing dengan penilaian orang-orang terhadap nya, mengingatkan saya akan sifat salah seorang superstar di dunia musik, yang juga sangat fenomenal di zamannya, Kurt Cobain (1967-1994).

Dalam buku biografinya yang ditulis Charles R. Cross, “Heavier Than Heaven: A Biography of Kurt Cobain” (2001), sangat kentara terlihat, bahwa Kurt merupakan seorang yang keras kepala, bebal, dan tak suka diatur orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam salah satu kisah di buku biografinya diceritakan, kecanduannya mengonsumsi obat-obatan terlarang, sempat coba dihentikan oleh istrinya, Courtney Love, pihak label, dan para sahabatnya, lantaran ia sempat mengalami overdosis sangat parah hingga dilarikan ke Rumah Sakit, usai Nirvana konser di kota Roma. Ia menenggak obat-obatan dalam jumlah banyak menggunakan sampanye. Namun, hasil usaha orang-orang terdekatnya itu nihil. Alih-alih mendengarkan saran dari orang-orang sekitarnya, Kurt, yang tempramental, malah balik menyerang dengan berkata, “Siapa kalian ini? Berani-beraninya mengatur hidupku!” Kurt pun tetap menjadi pengguna obat-obatan terlarang hingga akhir hayatnya.

Sifat keras kepalanya untuk tetap menjadi dirinya sendiri, tak peduli dengan pandangan orang lain terhadapnya, dipatenkan lewat diktum tersohornya, “I’d rather to be hated for who I am, than loved for who I am not.”

Berdasarkan hal tersebut, dapat terlihat ada satu kesamaan sifat dari Cristiano Ronaldo dengan superstar musik grunge itu: Mereka menolak secara tegas-apa yang disebut Heidegger, “lupa akan makna ada” sebagai manusia modern, dengan tidak takut menjadi diri mereka sendiri di tengah arus popularitas yang melambungkan mereka, karena bisa saja sewaktu-waktu publik berhenti menyukai mereka, karena sikap dalam diri mereka yang “tak sesuai” dengan “standar publik”, tentang bagaimana seharusnya seorang figur masyarakat bersikap.

***

Pertama kali tayang di situs Panditfootball.com pada 3 Agustus 2016.

Ayi Beutik dan Semangat Dyonisian

“Di stadion mah, kudu belegug!” Atau dalam bahasa Indonesia, kurang lebih berarti, “Di stadion itu harus bodoh!”

Potongan kalimat itu diucapkan oleh salah satu tokoh yang tersohor serta dihormati oleh bobotoh (pendukung) Persib Bandung bernama Ayi Beutik. Ia telah meninggal pada Agustus 2014, tepatnya berselisih satu hari jelang laga penuh rivalitas antara Persija Jakarta melawan Persib.

Tiga bulan kemudian sejak kepergiannya, pada suatu malam yang indah di Stadion Jakabaring, Palembang, Persib merengkuh trofi juara Liga Indonesia 2014. Trofi yang tentu selalu diidam-idamkan Ayi.

Ayi adalah sosok yang tidak mesti dipertanyakan lagi totalitasnya dalam mendukung Persib. Bahkan dalam sebuah obituari tentangnya yang ditulis oleh Eko Maung di situs daring bobotoh Persib bernama Simamaung, diceritakan bahwa Ayi sampai rela meninggalkan pekerjaannya sebagai surveyor demi keleluasaan menonton Persib. Ayi sanggup melepaskan kemapanan nafkah yang telah didapatkannya demi kesebelasan berjuluk Maung Bendung tersebut.

Sebagai surveyor yang sudah barang tentu mesti banyak berada di pedalaman-pedalaman, ia merasa gelisah karena tak bisa menyaksikan Persib dengan leluasa. Dalam salah satu bagian obituari itu juga terkisah, bagaimana Ayi pernah hingga harus naik rakit untuk mencari rumah warga yang memiliki televisi guna menyaksikan pertandingan Persib vs AC Milan. Karena itulah Ayi memutuskan untuk melepas pekerjaannya.

Usai kepergiannya, nama Ayi tetap sakral dan tak akan luput dari ingatan para bobotoh Persib. Mengingat rekam jejak semasa hidupnya, Ayi merupakan sosok yang sangat militan dalam mendukung Persib. Ayi adalah manifestasi utuh dari segenap nilai-nilai yang disebut fanatisme, totalitas, dan loyalitas seorang suporter sepakbola. Hal ini pulalah yang membuatnya—meminjam istilah Eko Maung-diterima secara sosiologis oleh para bobotoh Persib.

Dengan kata lain, Ayi diterima karena sosoknya bukan karena jabatan sebagai Panglima Viking, kelompok bobotoh Persib. Andaikan jabatan Panglima Viking itu tak lagi diampu Ayi, bobotoh akan tetap menaruh hormat dan menokohkannya. Karena Mang Ayi telah diterima dengan sendirinya secara sosial berkat totalitas dan militansinya yang telah terbukti. Bukan diterima secara struktural karena jabatannya, yang jelas akan padam apabila kehilangan jabatan itu.

Kembali kepada salah satu kutipan dari Ayi di awal tulisan ini. “Di stadion mah, kudu belegug!”. Bagi mereka yang belum pernah sekalipun menonton pertandingan sepakbola langsung di tribun stadion, agaknya akan sedikit mengerenyitkan dahi ketika mendengar kalimat tersebut. Mungkin coba memahami ajakan yang selintas terkesan “amoral” itu. Dan tak jarang bila berpikir pendek, akan berakhir dengan sebuah anggapan, “bahwa itu buruk”, “tak patut dicontoh”, dll.

Ada baiknya, sebelum terburu-buru memberikan cap baik atau buruk seperti itu, cobalah sempatkan waktu merasakan sendiri sensasi menonton sepakbola langsung di stadion, terutama ketika kesebelasan kesayangan Anda sedang bertanding. Godaan untuk tidak berteriak, berjingkrak, bahkan mengumpat, niscaya akan sulit dibendung.

Bagi sebagian orang, tribun stadion adalah tempat dimana afeksi dan emosi mengendalikan tubuh. Ketika sedang mendukung tim kesayangan kita di atas tribun, proses bersikap niscaya tak lagi ditimang dari rasio. Melainkan ditentukan (sepenuhnya) oleh alam bawah sadar kita.

Dalam telaah psikologi Sigmund Freud, sikap yang ditentukan oleh alam bawah sadar ini disebut sebagai “id”. Bagi Freud, nalar, akal budi, bahkan agama, hanyalah supra-struktur yang ditentukan oleh “id” tersebut. Kebalikan dari rasio yang segala sesuatunya ditentukan secara sadar. Seperti halnya diktum Rene Descrates, “Aku berpikir, maka aku ada”.

Jika kita tarik lebih lampau lagi, pada zaman romantik Jerman, Nietzsche sudah lebih dahulu membuat anti-tesis terhadap rasionalisme. Bagi Nietzsche yang mengusung spirit Dyonisian–yang dilambangkan oleh dewa bernama Dionysus (dewa anggur dan dewa pesta)– berpandangan bahwa kemabukan sebagai cara yang paling tepat untuk menjalani hidup.

Hal tersebut jelas kontras dengan mereka yang mengusung semangat Apollonian yang dilambangkan oleh dewa matahari bernama Apollo. Bagi mereka yang mengusung semangat ini, cara menjalani hidup adalah dengan penuh keseimbangan, pengendalian, serta perhitungan. Itu semua berpijak penuh pada nalar dan akal budi secara sadar.

Menganggap mana yang lebih benar dari keduanya, agaknya sikap yang kurang tepat. Hal itu akan membuat kita rentan mengabaikan beragam konteks yang melatarinya. Terlebih ketika konteksnya adalah saat menonton sepakbola di tribun stadion.

Pemandangan megah bangunan stadion, gemerlapnya lampu stadion, serta sudut-sudut tribun yang dipenuhi manusia dengan kadar militansi dan gairah yang tinggi untuk mendukung tim kesayangan, hingga riuh-rendah chants yang berkumandang sepanjang pertandingan. Hal-hal itu sepertinya akan membuat kita, sebagai bagian dari mereka, sulit untuk menampik hasrat membuncahnya “kegilaan” dalam diri untuk sama-sama larut dalam euforia itu.

Pada saat itulah diri kita sepenuhnya dikendalikan oleh alam bawah sadar. Dikendalikan oleh spirit Dyonisian ala Nietzsche. Sesuatu yang seharusnya tak mesti tabu, karena banyak hal dalam diri kita yang ditentukan oleh alam bawah sadar. Tidak melulu ditentukan oleh kita secara sadar.

Ungkapan “Di stadion mah kudu belegug!” dari Mang Ayi Beutik, adalah ungkapan yang sepertinya lahir dari sebuah fenomena ketika alam bawah sadar mengambil alih penuh kendali dalam diri. Sampai tak ada kesempatan untuk menimang-nimang mana yang baik dan buruk kala berada di atas tribun stadion mendukung Persib. Karena yang mengendalikan ialah alam bawah sadar dengan segenap emosi dan afeksinya.

Hal ini juga sangat menunjukkan bagaimana hebatnya fanatisme dan totalitas yang ada dalam diri Ayi kepada Persib. Hingga tak ada lagi ruang untuk rasio yang penuh dengan pertimbangan, kehati-hatian dan perhitungan dalam mendukung Persib. Ini ditegaskan dengan salah satu kutipan tersohor Ayi yang lain, “Jika menghitung untung-rugi, maka dukungan kita tak murni lagi.”

Fragmen ketika Ayi berani melepaskan pekerjaan yang menjadi sumber penghidupannya demi bisa leluasa menonton Persib, juga merupakan bentuk dari bagaimana kecintaan di dalam alam bawah sadarnya kepada Persib, telah melampaui segala perhitungan dan rasionalisme. Seandainya pilihan itu dihadapkan pada kita, niscaya kita akan berpikir ulang berkali-kali, dan besar kemungkinan pada akhirnya kita tak berani mengambil keputusan se-berani Ayi.

Berbahagia disana Ayi, semangatmu telah menginspirasi banyak orang!

***

Pertama kali tayang di situs Panditfootball.com pada 1 Juni 2016.

Kim Kurniawan dan Rite de Passage

Jika harus menyebutkan salah satu pemain Persib Bandung yang paling berkesan di gelaran Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 kemarin, maka nama Kim Jeffrey Kurniawan sepertinya tak akan absen disebut oleh para pendukung Persib Bandung.

Kim Jeffrey Kurniawan, pemain kelahiran Muhlacker, Jerman, 27 tahun silam ini bergabung ke tim Persib Bandung setelah dirinya diboyong oleh pelatih Dejan Antonic dari Pelita Bandung Raya sebelum kompetisi TSC 2016 dimulai.

Kehadiran dirinya di Persib, tidak begitu membuat para pendukung Persib Bandung antusias. Cenderung terkesan biasa-biasa saja. Terlebih, pada saat itu, di mata kebanyakan Bobotoh, level Kim masih dinilai jauh di bawah gelandang bertahan Persib yang sudah ada sebelumnya, yakni Hariono dan Taufiq yang sudah terlebih dulu memperkuat Persib Bandung.

Kesan yang awalnya hanya biasa-biasa saja tersebut,  ternyata memburuk. Hal itu dimulai pada saat Persib berlaga di turnamen pra-musim,  Piala Bhayangkara, sebelum kompetisi TSC 2016 bergulir. Penampilannya bersama Persib di bawah komando Dejan Antonic, menuai banyak kritik dari berbagai pihak, terutama dari para Bobotoh.

Penampilannya banyak dinilai pas-pasan, bahkan kerap tampil buruk  dan belum bisa mengimbangi permainan Hariono di sektor gelandang bertahan. Yang menjadi penyebab  kegeraman banyak Bobotoh pada saat itu adalah, dengan penampilannya yang masih pas-pasan tersebut, Kim malah selalu menjadi langganan skuad inti coach Dejan di setiap pertandingan.  Alhasil, julukan “anak emas” pun sempat disematkan pada dirinya.

Ketika TSC 2016 sudah bergulir, penampilannya nampak belum jua membaik.  Kim masih dinilai belum pantas untuk bermain di tim sekelas Persib Bandung  oleh banyak Bobotoh. Kecaman dan kritikan dari para Bobotoh pun semakin banyak berdatangan. Namun, dengan banyaknya kecaman yang dilontarkan oleh Bobotoh tersebut, tak membuat Dejan menggeser Kim ke bangku cadangan.

Dia tetap pada pendiriannya untuk selalu menurunkan Kim di setiap pertandingan pada saat itu. Bahkan, suatu ketika coach Dejan pernah menantang awak media yang mempertanyakan tentang alasan dirinya selalu menurunkan Kim, yang  penampilannya  banyak dinilai buruk. Coach Dejan menantang awak media tersebut  untuk beradu argumen mengenai hal itu lewat data statistik tentang  permainan Kim.

Hal inilah yang memicu kekesalan banyak Bobotoh semakin memuncak dan mengundang terjadinya aksi yang lebih besar. Sadar bahwa upaya mengecam dan mengkritik Kim sebatas di linimasa sosial media saja belum cukup untuk membuat coach Dejan sadar, para Bobotoh mulai mecoba untuk melakukan aksi yang lebih “keras”.

Di suatu sesi latihan Persib pada Senin sore tanggal 2 Mei 2016, sekelompok orang  yang kurang diketahui identitasnya datang ke tempat latihan Persib berlangsung. Masing-masing dari mereka mengenakan topeng bergambar wajah Kim Jeffrey. Lantas mereka mulai membentangkan spanduk putih bertuliskan “Ada Apa Dengan Kim, Coach Dejan?” dan “Kim Butut”.

Aksi itu jelas menarik perhatian para pemain yang sedang berlatih. Bahkan pelatih kiper Persib, Anwar Sanusi, sempat mendatangi para demonstran tersebut dan menyuruh mereka membuka topengnya. Aksi mereka pada akhirnya berhenti setelah para demonstran itu diusir oleh kepolisian di lokasi.

Tekanan dari banyak Bobotoh pada saudara ipar Irfan Bachdim ini belum juga berhenti usai kejadian itu. Hingga pada 11 Juni 2016, Persib menelan kekalahan telak dari Bhayangkara FC dengan skor 1-4. Inilah klimaks dari segala tekanan banyak Bobotoh, dan hal ini membuat coach Dejan memilih mundur dari kursi pelatih kepala Persib.

Sempat banyak yang mengira, mundurnya coach Dejan akan berdampak pemberhentian pula pada gerbong pemain yang dibawanya di awal musim, termasuk kepada Kim. Namun hingga kursi kepelatihan kembali diampu Djajang Nurdjaman, Kim masih tetap dipertahankan.

Seiring berjalannya waktu, usai mengalami masa-masa sulit dengan mendapat kritikan keras dari banyak Bobotoh, penampilan Kim terlihat semakin membaik dan menunjukkan perkembangan yang signifikan.

Puncak dari penampilannya yang semakin membaik itu, adalah ketika ia berhasil mencetak gol pertamanya ketika Persib berhadapan dengan PS TNI di Stadion Pakansari pada 21 Agustus 2016. Bahkan gol ini mencatatkan dirinya sebagai gelandang jangkar pertama di Persib pada saat itu yang berhasil mencetak gol ke gawang lawan. Pada akhir musim TSC 2016 pun, Kim tercatat sebagai pemain ketiga tersubur di Persib dengan mencetak 4 gol, setelah Sergio van Dijk (7 gol) dan Vladimir Vujovic (5 gol).

Apa yang dialami oleh Kim tersebut, setidaknya menunjukkan suatu perubahan fase pada dirinya, dari fase sebelum mendapat kritikan, hingga sesudah mendapat kritikan dari banyak Bobotoh. Perubahan fase ini,  seperti apa yang diungkapkan oleh Arnold van Gennep, ahli folklore asal Prancis, dalam telaahnya tentang konsep rite de passage.

Rite de passage merupakan suatu momen yang menandai peralihan hidup seseorang dari satu fase ke fase berikutnya.  Peralihan fase  ini biasanya diiringi dengan perubahan status orang tersebut dari status sebelumnya.  Arnold van Gennep memberi contoh, bahwa upacara pernikahan merupakan salah satu contoh dari momen rite de passage.

Ada pun contoh lain, salah satunya seperti upacara khitanan, yang mengubah fase kehidupan seseorang secara biologis. Upacara lompat batu di Nias, juga merupakan salah satu contoh dari rite de passage yang mengubah status sosial seseorang, dari  belum dewasa, berubah menjadi diakui oleh masyarakat setempat sebagai orang dewasa.

Singkatnya, rite de passage adalah suatu momen yang menyebabkan kehidupan seseorang mengalami perubahan.

Dalam konteks yang dialami oleh Kim, kritikan dan tekanan dari banyak Bobotoh, bisa dinilai sebagai rite de passage dalam kariernya sebagai pesepak bola. Jika dirinya tidak pernah mendapat kritikan dari Bobotoh, penampilannya boleh jadi tidak akan sehebat sekarang. Kritikan keras dan cercaan banyak Bobotoh, adalah sebentuk upacara yang mesti dilalui oleh Kim untuk menandai proses peralihan fase hidupnya, dalam konteks karier sepak bolanya, menjadi lebih baik. Dan Kim terbukti mampu melalui upacara peralihan itu dengan baik.

***

Hal yang kurang lebih sama seperti apa yang dialami Kim Jeffrey, kini sedang terjadi pula kepada salah satu rekrutan anyar Persib Bandung musim ini, Raphael Maitimo.

Kehadirannya menuai kontroversi, karena cukup banyak Bobotoh yang tidak setuju atas kehadirannya dan mengkritik sikapnya yang dianggap buruk serta tidak mencerminkan profesionalisme terhadap klub yang ia bela sebelumnya, PSM Makassar.

Selain itu, ada juga Bobotoh yang meragukan skill dan kemampuan Maitimo yang dianggap tidak lebih baik dari pemain-pemain yang sebelumnya sudah ada di tim.

Menarik ditunggu, apakah Maitimo mampu menghadapi ini semua seperti apa yang sudah dilakukan Kim sebelumnya?  Beruntung, Kim sebelumnya tidak mencontohkan cara menghadapi ujian ini dengan keluar dari tim, dengan  alasan visi pelatih yang tidak sejalan dengan dirinya.

***

Pertama kali tayang di situs Football Tribe Indonesia. Pada 8 April 2017.

Keluyuran

Saya cukup sering melakukan hal ini. Ketika hati sedang kelewat kalut, dan pikiran semerawut, maka saya akan pergi keluar. Motor matik hitam yang saya miliki sedari awal kuliah dulu, adalah kawan perjalanan yang selalu menemani saya ketika keluyuran.

Tak pernah ada tujuan. Oleh karenanya saya memberi judul “Keluyuran” pada catatan saya kali ini. Karena keluyuran jelas berbeda dengan, misalnya, plesir atau liburan. Liburan memiliki destinasi yang jelas. Ada tempat yang dituju, dan biasanya lengkap dengan durasi waktu ihwal berapa berapa lama kita akan berada di tempat yang dituju itu.

Sedang keluyuran tak memerlukan itu semua. Segalanya berjalan serba spontan. Tanpa ada tujuan, durasi, apalagi sebab tentang mengapa kita keluyuran. Pendeknya, orang yang keluyuran tak jauh berbeda dengan orang yang tersesat di sebuah tempat.

Tak pasti sejak kapan mulanya kegiatan ini saya sering tekuni. Tapi jika diingat-ingat, agaknya ini bermula semenjak saya intens menggeluti hobi street photography. Dua tahun lalu, ketika masih kuliah, saya berkenalan dengan genre fotografi ini. Sesuai namanya, kegiatannya pun sudah pasti digelar di jalanan. Alhasil, saat itu saya cukup sering ngaspal ke jalan. Menelusuri gang-gang sempit di kota, mengunjungi ruang-ruang publik, dan bertemu dengan banyak orang. Pada titimangsa itulah, hubungan saya dengan jalanan menjadi semakin intensif. Lambat laun saya jadi terbiasa untuk pergi keluar.

Sekarang, saya sudah sangat jarang motret di jalan. Antusias pun berkurang, tidak sehebat dulu seperti sejak awal berkenalan dengan genre fotografi tersebut. Sudah kelewat malas untuk berjalan-jalan sambil menenteng kamera, dan menangkap moment-moment yang berserakan.

Tapi, seperti di awal tulisan tadi saya sebut, untuk keluyuran di jalanan hingga saat ini masih sering saya lakukan. Kadang jika jarum bensin motor masih jauh dari huruf “E”, saya bisa berputar-putar di kota hingga satu-dua jam. Atau kadang berkahir dengan menepi dan duduk-duduk di sebuah mini market, warung kopi, hingga bangku di pinggir jalan.

Tak ada kegiatan spesifik yang dilakukan. Usai membeli minuman dan duduk, lalu garuk-garuk kepala, dan menatap ke arah jalan yang gaduh dan riuh. Pernah saya coba dengan membekal sebiji buku dari rumah, agar setidaknya ada aktivitas yang dilakukan. Tapi ternyata sia-sia. Saya termasuk orang yang tidak bisa membaca buku di tengah keriuhan. Jikapun berusaha untuk membaca, paling hanya kuat dua hingga empat halaman. Seperti sekedar “say hello” saja.

Bagitupun ketika sedang berada di perpustakaan. Saya tidak kuat membaca lama-lama di perpustakaan. Jika tadi saya berkata bahwa di tengah riuh kendaraan dan manusia saya tidak bisa membaca buku, maka di tegah riuh buku pun saya tidak sanggup untuk serius membaca. Setiap kali ke perpustakaan yang barang tentu dipenuhi buku-buku, pasti berakhir dengan tergoda untuk melihat-lihat buku yang lain. Membuka-buka, membaca sekilas kata pengantar, atau menakar isi buku dengan melihat daftar isi saja.  Maka metafor penyair Argentina, Jorge Luis Borges, peraih nobel sastra pada 1986 itu, yang dia pernah membayangkan surga itu seperti perpustakaan yang agung, tak berlaku pada diri ini. Perpustakaan bagi saya bukan tempat yang cocok untuk membaca.

Semenjak itu, saya tak pernah lagi membekal buku ketika keluyuran. Dengan duduk-duduk, melihat gaduh jalanan, sambil diterpa angin malam yang mencucuk, sudah sangat cukup untuk membuat hati dan pikiran terasa lebih lapang dari sebelumnya. Saya pun lebih nyaman sendirian ketika keluyuran. Saya bukan termasuk orang yang mudah berbagi kisah kalut dan murung kepada orang lain, sekalipun dengan orang terdekat. Entah mengapa, rasa-rasanya lebih nyaman untuk menggarap depa demi depa kemurungan itu sendiri saja. Mungkin persis seperti apa yang dikatakan Charil dalam sajak “Pemberian Tahu”: nasib adalah kesunyian masing-masing.

Tidak seperti apa yang dikisahkan John Steinback dalam novel “Dataran Tortilla”. Yang mengisahkan segerombolan kawanan yang  hidup dalam satu rumah sewaan. Kawanan itu setiap hari  gemar menenggak anggur, anggur adalah kebutuhan primer layaknya air mineral bagi mereka. Namun tak ada satu pun dari kawanan itu yang memiliki pekerjaan.  Alhasil mereka kerap menipu Tortil–sang penjual anggur di dekat rumah mereka, demi tetap bisa minum. Mereka dengan enteng berbagi nasib yang segendang-sepenarian, dalam setiap tegukan anggur.

Kadangkala dalam di setiap “ritus” keluyuran yang saya gelar itu, saya berharap mendapatkan sesuatu. Entah ide, gagasan, atau semangat baru setelahnya. Namun hal itu cukup sulit dilakukan. Keluyuran sejauh ini hanya sebatas berhasil mengusir penat, tanpa memberi nubuat.

Ide, atau gagasan lebih sering muncul  tiba-tiba, sekonyong-konyong tanpa diminta, dan sayangnya, belum pernah datang ketika saya sedang keluyuran. Walaupun hasrat untuk mendapatkan itu ketika keluyuran masih saya simpan dan harapkan. Karena pasti ada yang berbeda, dan sepertinya saya akan tetap sering keluyuran hingga mendapati momen itu.

Karena siapa yang gigih mencari, pasti akan ditemukan. Kalau tidak salah, itu perkataan Jalaludin Rumi.